MAKALAH ETIKA DASAR - Keterkaitan masalah Etika Dasar dengan film Talentime.

BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar ungkapan-ungkapan yang membuktikan adanya pandangan relativisme moral dalam masyarakat. Contoh-contoh ungkapan itu antara lain, "Apa yang benar menurutmu, belum tentu benar menurutku", "Kamu tidak berhak mengatakan apa yang harus kulakukan", "Meskipun aku punya pendirian lain, namun aku tidak menyalahkan pendirianmu", dan lain-lain. Kadang-kadang, secara tidak sadar pandangan relativis ini juga diajarkan di sekolah-sekolah. Lihatlah, misalnya, ketika guru mengatakan, "Jangan takut memberikan jawaban. Tidak ada jawaban yang benar dan salah. Saya hanya mau mendengar pendapat kalian saja".Meski dinyatakan dalam bahasa sederhana yang mudah dicerna, namun ungkapan tersebut sesungguhnya membawa konsekuensi etis. Di dalamnya tersirat adanya pembenaran terhadap relativitas moral. Kebenaran bukanlah milik seseorang atau sekelompok orang. Kebenaran adalah milik siapa saja. Tergantung dari sudut pandang mana kita melihat kebenaran tersebut.
Dalam mempelajari etika, moral relativisme itu dikelompokkan ke dalam dua bagian yaitu relativisme subjektif dan relativisme budaya. Secara sederhana, relativisme subjektif berpendapat bahwa kebenaran moral tergantung pada masing-masing individu. Sementara relativisme budaya mengatakan bahwa kebenaran moral tergantung pada budaya yang terdapat di tengah masyarakat. Kedua relativisme ini sama-sama menolak keberadaan moralitas absolut. Tidak ada moralitas objektif bagi semua orang di semua tempat dan di semua waktu. Bagi orang yang menganut paham relativis, tentu tidak pada tempatnya untuk mengajukan pertanyaan abstrak tentang apakah suatu tindakan itu benar atau salah.
Namun, karena manusia sebagai mahluk yang berakal budi (berbeda dengan binatang) manusia mempunyai pengertian, yang berarti bahwa ia memahami adanya alternatif-alternatif untuk bertindak. Itulah yang dinamakan kebebasan, karena manusia dapat memilih alternatif yang satu atau yang lain, dan karena itulah ia dapat dibebani kewajiban. Seseorang dikatakan bebas apabila masyarakat tidak menghalang-halanginya dari berbuat apa yang diinginkannya sendiri. Karena kebebasan itu secara hakiki dihayati dalam hubungannya dengan orang lain, maka dinamakan kebebasan sosial. Kita hanya dapat menentukan sikap dan tindakan kita sendiri, sejauh orang lain membiarkan kita. Itu artinya kebebasan sosial kita terbatas dan membutuhkan pertanggungjawaban atas kebebasan yang dimiliki.
Kebebasan sosial dan tanggung jawab dibatasi oleh norma – norma yang bersumber dari keluarga, masyarakat dan negara, baik itu norma agama, sosial maupun hukum. Sehingga ketika kita bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan tersebut, kita dipaksa untuk membuat keputusan yang merupakan tanggung jawab kita sendiri dan tidak dapat dioper ke orang lain. Dan dalam kesadaran tentang apa yang menjadi kewajibannya berhadapan dengan masalah konkret yang dihadapinya setiap manusia dalam hatinya memiliki suatu kesadaran tentang apa yang menjadi tanggung jawab dan kewajibannya. Kesadaran itu tidak selalu kita perhatikan. Kalau hati setuju dengan pendapat moral lingkungan, maka suara hati tidak menyolok.
Nah sekarang, setelah menonton film ”Talentime” yang berlatar pertandingan mencari bakat di sebuah sekolah, Talentime bertumpu pada kehidupan dua keluarga. Satu, keluarga campuran Melayu-Inggris, manakala satu lagi sebuah keluarga India yang konservatif. Dua kehidupan ini kemudian bertemu dan dua jiwa mula bersatu melalui cinta. Mahesh dan Melur pada mulanya mengenal cinta, namun atas soal prinsip dan sejarah silam, cinta mereka tidak direstui oleh ibu Mahesh. Sementara Hafiz juga harus menghadapi kenyataan atas perjuangan ibunya untuk terus hidup apabila telah disahkan mengidap penyakit kronis. Pengorbanan dan kasih sayang anak dan ibu yang dipaparkan dalam “Talentime” ini sangat menyentuh hati dan membuai rasa mereka yang menonton.
Film “Talentime” dinilai berani menyatakan realiti sebenarnya tentang apa yang berlaku dalam Malaysia dan juga rakyat Malaysia. Rakyat Malaysia kini adalah masyarakat atau negara yang baik, serba lengkap, harmoni tanpa masalah, rakyatnya soleh, tidak ada masalah moral, pendek kata semua skem film yang kita tonton supaya kita tahu bahwa banyak yang perlu dilakukan untuk memperbaiki segala yang salah. Persepsi masyakarat bukan Melayu terhadap masa depan melayu dimana Melayu ini sering dilabelkan sebagai bangsa subsidi dan sering dimanjakan. Walaupun ini ada kebenarannya namun dalam film ini ia menunjukkan tidak semua melayu begitu, ada masyarakat Melayu yang mampu berdikari.

2.      Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini akan mencakup pembahasan mengenai relativisme moral, tanggung jawab dan kebebasan serta kesadaran moral dan suara hati yang ada pada film “Talentime”.

3.      Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai Etika Dasar dan masalah – masalah etika moral yang terjadi dimasyarakat melalui film “Talentime”.
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah supaya pembaca mengerti apa yang penulis tulis, mendapatkan manfaat dari apa yang ditulis di makalah ini dan membuka wawasan kepada pembaca bahwa etika dasar itu penting diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.


BAB II

LANDASAN TEORI DAN ANALISIS

1.      Relativisme Moral
Relativisme Moral menolak bahwa ada norma-norma moral yang berlaku umum. Menurut Relativisme norma-norma moral hanya berlaku relatif terhadap lingkungan atau wilayah tertentu. Maka menurut relativisme percuma kita mencari tolak ukur umum bagi kelakuan moral manusia, karena tolak ukur itu di mana-mana berbeda adanya. Ada beberapa bentuk relativisme. Di sini saya membatasi diri pada relativisme deskriptif atau kultural.
Relativisme kultural mengatakan bahwa norma-norma moral yang berlaku dalam berbagai masyarakat dan kebudayaan (karena itu disebut relativisme kultural) tidak sama, melainkan berbeda satu sama lain. Disebut deskriptif (dari kata ”deskripsi”, penggambaran) karena ia sekedar menunjuk pada fakta pluralisme norma-norma moral yang dapat kita amati dalam berbagai masyarakat di dunia. Relativisme moral deskriptif ini mendasarkan diri pada hasil berbagai ilmu., khususnya ilmu etnologi, antropologi, sosiologi dan sejarah. Semua ilmu ini telah banyak mengumpulkan bahan pengetahuan tentang berbagai bangsa dan kebudayaan di mana kelihatan betapa berbeda norma-norma moral di dunia kita ini. Misalnya saja dalam pengaturan hidup seksual terdapat segala macam pandangan moral: ada yang hanya membenarkan monogami, ada yang membenarkan poligami, ada yang keras terhadap hubungan seks yang bebas dan ada yang lunak, ada yang melarang dan ada yang menganggap tidak apa-apa terhadap hubungan homoseks. Nampak dengan jelas bahwa tidak ada kesatuan pandangan moral dalam umat manusia. Maka relativisme deskriptif menolak anggapan bahwa norma-norma moral berlaku umum.
Relativitas budaya berprinsip bahwa kepercayaan dan aktivitas individu harus dipahami berdasarkan budaya di wilayahnya masing-masing dan mengajak kepada siapapun untuk menghargai suatu budaya yang berbeda atau memiliki perbedaan dengan budayanya, sehingga menghasilkan penilaian terhadap budaya yang bersifat relatif. Hal ini berarti bahwa tidak ada suatu komunitas masyarakat yang berhak mengklaim budayanya lebih unggul dibanding dengan budaya yang lain.
Seperti yang terjadi di film “Talentime” , Orang-orang itu berlatar dari tiga latar kultur berbeda: Melayu,Cina, dan India, atau tiga kultur besar yang menyusun masyarakat Malaysia.Inti narasi berkutat pada para finalis ajang Talentime ini. Ada Melur, gadis keturunan Melayu-Inggris Muslim yang tumbuh dalam keluarga yang dekat, akrab, dan terbuka. Melur yang berbakat dalam piano dan sastra, jatuh cinta kepada Mahesh, seorang India Tamil beragama Hindhu yang bertugas menjadi pengantar Melur dalam acara Talentime. Cinta mereka terjalin dalam kesunyian karena Mahesh seorang bisu-tuli. Tapi, selain Mahesh, ada pula yang menyukai Melur dari jauh. Hafizh, pemuda Melayu Muslim taat, seorang gitaris dan penyanyi berbakat yang sebagian hidupnya diabdikan untuk menjaga ibunya yang sakit tumor. 
Di sisi mereka semua, diceritakan tentang Kahoe, keturunan Cina, seorang yang perfeksionis dan tak terima kalah dari Hafizh karena tumbuh dalam didikan ketat ayahnya. Film ini tampaknya berupaya menggambarkan rupa-rupa pengalaman yang mungkin terjadi ketika dua budaya berinteraksi. Ada cinta yang mungkin tumbuh, kekerabatan yang terjalin, ikatan keluarga yang tak bisa dilepaskan, tetapi ada juga prasangka dan stereotipe yang sulit ditinggalkan. Oleh karena itulah, film ini memotret ceritanya dalam bingkai Malaysia kecil, Malaysia yang multikultur. Dan film ini juga berhasil menyampaikan makna ceritanya melalui  cinta Melur dan Mahesh yang berlatarbelakang budaya dan agama yang berbeda. Faktanya bahwa budaya dan agama itu berdampingan dan cinta mereka pada akhirnya berhasil membuat orangtua dan orang sekitarnya merestui hubungan mereka. Dalam kasus ini, relativitas moral dan budaya Melur dan Mahesh berhasil melalui cinta. Mereka bisa saling menghargai dan menghormati perbedaan nilai, moral, budaya dan agama bahkan saling menerima perbedaan masing – masing.


2.      Tanggungjawab dan Kebebasan
Kebebasan yang diberikan kepada kita oleh lingkungan sosial merupakan batas kemungkinan untuk menentukan diri kita sendiri. Masih ada sesuatu yang perlu kita perhatikan. Sering diperdebatkan apakah kebebasan itu harus dipahami sebagai sesuatu yang positif, dengan tekanan ”bebas untuk apa?”, atau secara negatif, sebagai ”bebas dari apa”. Dengan pembedaan antara dua segi kebebasan ini kita dengan mudah melihat, bahwa dua-duanya benar, tetapi tergantung pada kebebasan yang mana kita maksud. ”Bebas untuk apa?” menyangkut sikap yang akan kita ambil, jadi yang dipertanyakan adalah kebebasan eksistensial. ”Bebas dari apa?” mengenai kebebasan sosial. Kita sendiri selalu berhadapan dengan pertanyaan, apa yang mau kita lakukan, jadi untuk apa kebebasan kita pakai. Sedangkan terhadap lingkungan sosial kita menanyakan luas bidang yang dibiarkan bebas dari penentuannya, yang dapat kita isi sendiri menurut kemauan kita. Karena kebebasan sosial merupakan ruang atau prasyarat penggunaan kebebasan eksistensial, kita membahasnya terlebih dahulu.
Apakah kebebasan sosial manusia boleh dibatasi? Apakah masyarakat, jadi orang tua, guru, atasan, negara dan banyak pihak lain yang biasanya mau menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh kita lakukan, berhak untuk membatasi kebebasan kita?  Sebagai mahkluk sosial yang hidup bersama dalam dunia yang terbatas, sudah jelas manusia harus menerima bahwa masyarakat membatasi kewenangannya. Bahwa kebebasan sosial kita terbatas, sudah jelas dengan sendirinya. Yang perlu ialah agar pembatasan itu dapat dipertanggungjawabkan. Karena kalaupun kebebasan kita harus dibatasi, hal itu tidak berarti bahwa segala macam pembatasan dapat dibenarkan. Karena kita semua mempunyai kebebasan yang sama dan bagian dari anggota masyarakat.
Seperti yang ada di Film Talentime, kebebasan dalam bersosial yang bermoral ditunjukkan oleh para peserta yang mengikuti acara Talentime, mereka bebas berkarya dan menampilkan bakat mereka dalam acara tetapi secara bertanggung jawab.
Bukan sembarang keputusan dapat disebut bertanggung jawab. Sikap dan tindakan-tindakan yang harus kita ambil tidak berdiri di ruang kosong, melainkan harus kita pertanggungjawabkan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang sebenarnya, terhadap tugas yang menjadi kewajiban kita dan terhadap harapan orang lain. Sikap yang kita ambil secara bebas hanya memadai  apabila sesuai dengan tanggung jawab objektif itu. Jadi adanya kebebasan itu tidak berarti bahwa kita boleh memutuskan apa saja dengan seenaknya. Bahwa kita diberi kebebasan oleh masyarakat berarti, bahwa kita dibebani tanggung jawab untuk mengisi kebebasan itu secara bermakna. Kita juga dapat memutuskan sesuatu secara tidak bertanggung jawab. Prinsip-prinsip moral dasar yang akan kita bicarakan dalam makalah ini merupakan tolok ukur apakah kebebasan yang kita pergunakan secara bertanggung jawab. Jadi kita berada di bawah kewajiban berat untuk mempergunakan kebebasan kita secara bertanggung jawab.
Kebebasan ada hubungannya dengan otonomi moral dan heteronomi moral. Otonomi moral berarti bahwa manusia mentaati kewajiban-kewajibannya karena ia sendiri sadar. Seperti dalam film Talentime ditunjukan oleh para tokoh baik Melur, Mahesh maupun Hafiz dan tokoh lainnya menunjukkan kesolehan dan sikap rajin dan taat mereka dalam beribadah. Sedangkan heteronomi moral adalah penyimpangan dari sikap moral yang sebenarnya. Hal ini bisa kita lihat ketika paman Mahesh yang meninggal karena dibunuh oleh tetangganya. Tetangganya tidak terima dengan keluarga paman Mahesh yang sedang sukacita ketika mereka dalam keadaan derita dan dukacita. Dan apa yang mereka lakukan adalah membenci hingga membunuh paman Mahesh bukan menerima keadaan yang ada dan saling toleransi. Contoh lainnya adalah ketika Hafiz difitnah oleh Kohea menyontek pada saat ujian. Harusnya masalah ini diselidiki lebih lanjut bukan main fitnah saja. Terkadang fitnah lebih kejam dari pembunuhan,

3.      Kesadaran Moral dan Suara Hati
Manusia berhadapan dengan dua realitas yang khas bagi kehidupan. Di satu pihak, kebebasan sosial kita dibatasi oleh masyarakat, di lain pihak kebebasan eksistensial menuntut otonomi moral. Keduanya diperlukan agar eksistensi manusia menjadi nyata, yaitu masyarakat yang menentukan bagaimana kita harus hidup, dan kesadaran bahwa kita sendirilah yang harus mempertanggung-jawabkan sikap dan tindakan kita.
Terdapat 3 pihak yang dapat disebut lembaga,  yang mengajukan norma-norma kepada kita bagaimana harus hidup. Yang pertama ialah masyarakat, yaitu semua orang dan lembaga yang berpengaruh pada hidup kita. Yang pertama dan terpenting ialah keluarga, terutama orang tua. Dari merekalah kita pertama kali belajar tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang dianggap baik dan tidak baik, bagaimana harus bergaul dengan orang lain. Dari merekalah kita belajar perbedaan antara baik dan buruk, tidak boleh berbohong dan hendaknya membantu orang yang menderita.
Apabila kita menjadi semakin besar, semakin banyak orang dan lembaga lain yang juga mengajukan tuntutan-tuntutan mereka kepada kita. Antara lain sekolah dan Bapak serta Ibu guru. Di sekolah kita diajarkan untuk tepat waktu, dan tidaklah baik untuk mencari nilai baik dengan cara yang curang. Agama menuntut kepercayaan, tindakan-tindakan tertentu dan sikap-sikap yang dasariah dari kita. Sekelompok norma lain ditetapkan bagi kita di tempat kerja, misalnya bahwa harus setia kepada perusahaan, taat pada atasan, dan tentang arti tanggungjawab. Negara menetapkan norma-norma hukum dan peraturan yang wajib ditaati kalau tidak mau ditindak.
Di samping lembaga-lembaga itu, ada pula pihak informal tempat kita belajar bagaimana harus bersikap dan bertindak, misalnya kelompok sebaya, teman akrab, yang mungkin mempunyai mempunyai sistem normatif yang sangat ketat. Jadi masyarakat dengan pelbagai lembaganya merupakan sumber orientasi moral pertama bagi kita, tempat kita belajar bagaimana kita harus hidup.
Lembaga normatif yang kedua adalah superego. Yang dimaksud dengan super-ego ialah perasaan moral spontan. Superego menyatakan diri dalam perasaan malu dan bersalah yang muncul secara otomatis dalam diri kita apabila melanggar norma-norma yang yang telah dibatinkan itu. Yang khas pada superego ialah bahwa perasaan itu juga muncul meskipun tidak ada orang lain menyaksikan pelanggaran kita. Misalnya, pada saat pertama kali orang melihat gambar porno. Superego tidak mempunyai norma-norma asli sendiri, melainkan hanya menyuarakan norma-norma dari lingkungan sosial kita, dan dari lembaga normatif ke-3.
Lembaga Normatif ketiga adalah ideologi. Yang dimaksud dengan ideologi ialah segala macam ajaran tentang makna kehidupan, tentang nilai-nilai dasar dan tentang bagaimana manusia harus hidup dan bertindak. Meskipun tidak terlepas dari masyarakat, namun harus dibedakan, karena juga bekerja dalam bentuk abstrak, sebagai keyakinan atau kepercayaan seseorang yang dipegangnya secara teguh. Kekuatan ideologi terletak dalam pegangannya terhadap hati dan akal kita. Merangkul suatu ideologi berarti meyakini apa saja yang termuat di dalamnya, dan kesediaan untuk melaksanakannya. Ideologi menuntut agar orang mengesampingkan  penilaiannya sendiri dan bertindak sesuai dengan ajarannya. Di sini dimaksud bukan saja ideologi dalam arti keras dan tertutup, melainkan setiap ajaran dan kepercayaan yang memenuhi definisi di atas. Agama pun dapat dikelompokkan di sini.
Pada umumnya, yang mengajarkan norma dan cara bagaimana kita harus hidup adalah keluarga, sekolah dan negara. Keluarga mengajarkan budaya dan norma yang sudah ada sejak nenek moyang. Seperti Mahesh yang diajari budaya India dengan agama Hindu, Melur dengan budaya Melayu Inggris dan agama Islam, Hafiz dengan budaya Melayu dan Agama Islam. Selain itu, Pernikahan paman Mahesh yang hanya boleh dihadiri oleh anak lelaki dan ibu – ibu yang sudah berkeluarga itu juga merupakan budaya yang sudah dianut mereka sejak lama.
Sedangkan dari sekolah kita belajar norma kesopanan, sosial, budaya dan hukum. Sekolah secara sederhana mengajarkan kita bagaimana kita harus bersikap didalam masyarakat dan Negara mengajarkan (memaksa) kita untuk mematuhi aturan dan hukum yang ada dengan sanksi/hukuman bagi yang melanggarnya.
Suara hati adalah kesadaran moral kita dalam situasi konkret. Dalam pusat kepribadian kita yang disebut hati, kita sadar apa yang sebenarnya dituntut dari kita. Meskipun banyak pihak yang mengatakan kepada kita apa yang wajib kita lakukan, tetapi dalam hati kita sadar bahwa akhirnya hanya kitalah yang mengetahuinya. Jadi bahwa kita berhak dan juga wajib untuk hidup sesuai dengan apa yang kita sadari sebagai kewajiban dan tanggung jawab itu. Jadi secara moral kita akhirnya harus memutuskan sendiri apa yang akan kita lakukan. Kita tidak dapat melemparkan tanggung jawab itu pada orang lain. Kita tidak boleh begitu saja mengikuti pendapat para panutan, dan tidak boleh secara buta mentaati tuntutan sebuah ideologi. Secara mandiri kita harus mencari kejelasan tentang kewajiban kita.
Hal ini bisa kita lihat dari Mahesh yang berlutut di bawah kaki ibunya yang menolak hubungan Mahesh dengan Melur karena perbedaan budaya dan agama. Walaupun dia sadar apa yang sebenarnya dia yakini saat ibunya menentang dirinya, dia bertanya balik kepada ibunya kalau dia akan mengikuti kemauan ibunya jika ibunya mampu memberikan cara untuk melupakan si Melur dan suara hatinya.


BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

1.      Kesimpulan
Dari film Talentime yang penulis tonton, penulis menyimpulkan :
-          Relativisme moral bisa terjadi di dalam kehidupan masyarakat. Kebenarannya relatif, tidak dapat dipandang benar maupun salah tergantung tolak ukur dan sudut pandang mana yang kita pakai.
-          Kebebasan manusia baik dalam bersosialisasi, budaya maupun agama itu bebas namun dibatasi oleh masyarakat dan lembaga normatif. Setiap kebebasan yang kita tunjukan harus dapat dipertanggungjawabkan sama halnya dengan kita berpendapat dan kita harus bertanggungjawab atas pendapat yang kita ucapkan.
-          Kebebasan juga berhubungan dengan otonomi moral dan heteronomi moral. Intinya sadar atau tidak sadar dengan kewajiban/tugasnya sendiri.
-          Ketika melakukan tanggungjawab atas kebebasan, kita harus mengikuti suara hati kita. Maksudnya keputusan yang kita buat harus sesuai dengan apa yang dituntut dari kita dan apa sebenarnya kewajiban kita.

2.      Saran
Saran yang bisa penulis berikan adalah
-          Jangan mudah menjatuhkan hukuman terhadap seseorang tanpa usul periksa.
-          Jangan menilai orang dari penampilan tetapi dinilai dari sikap, kelakuan, tingkah laku dan pendiriannya. Kenallah orang itu lebih jauh jika penasaran.
-          Walaupun menghadapi situasi sulit, tetaplah tenang. Setiap masalah pasti ada solusinya. Bersikap tenang, berpikir positif terhadap masalah dan mintalah bantuan pada yang lain jika mengalami kesusahan.


DAFTAR PUSTAKA


http://fauzta.blogspot.co.id/2015/03/manusia-sebagai-mahkhluk-budaya-etika.html

http://nuridafatimah.blogspot.co.id/2012/06/v-behaviorurldefaultvmlo.html

http://khaziminrazali.blogspot.co.id/2009/03/talentime-movie-by-yasmin-ahmad.html

Suseno, Franz Magnis,.1987.Etika Dasar ”Masalah – Masalah Pokok Filsafat Moral”.Pustaka Filsafat:Kanisisus.s

Komentar